Nasi Belum Menjadi Bubur

Terlahir dari keluarga petani dan pedagang disalah satu pelosok desa Kalimantan Timur
kabupaten Berau, tidak membuat saya putus semangat dan malu untuk memiliki cita-cita yang
besar. Tinggal di pedalaman yang masih hangat dengan hijaunya pepohonan di hutan tidak
membuat saya mau untuk kalah semangat dengan orang-orang di kota dalam menuntut ilmu.
Meskipun tak jarang kegagalan yang menghampiri saya membuat lirih dan kesal di dalam hati,
tak jarang saya merasa ditertawakan oleh kegagalan yang telah berhasil merenggut sedikit rasa
semangat yang saya kumpulkan kembali sedikit demi sedikit.
Perjuangan ini berawal dari keraguan saya untuk melanjutkan kuliah ke kampus terbaik
di Indonesia, mengingat sejak SMP saya memang karena sering mendapatkan bantuan
beasiswa untuk keluarga kurang mampu. Ketika saya mendaftar SNMPTN (jalur undangan)
pun banyak keraguan saya untuk diterima di impian saya. Keraguan juga muncul karena
pengaruh dari pendapat orang di luar sana.
Hingga tibalah saatnya pengumuan bahwa saya lulus di pilihan pertama di Fakutas
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, tentunya senang sekali hingga berkali-kali mengucap
syukur kepada Allah SWT.
Masalah biaya kembali menjadi penghambat impian saya untuk dapat berkuliah ke UI,
tak hanya untuk biaya kuliah namun biaya transportasi untuk menuju kesana masih belum
cukup sepertinya. Benar saja dugaan saya ketika mengabarkan kelulusan saya di kampus
impian ini kepada kedua kakak saya yang kebetulan merantau untuk bekerja, mereka menolak
dan karena mengkhawatirkan kedua orangtua saya yang hanya tinggal berdua jika saya
merantau juga ke Depok ditambah lagi usia orangtua saya ini sudah terbilang tidak muda lagi.
Setelah dua hari pengumuman ini, saya baru berani memberitahu kedua orangtua saya, tidak
mudah memang, saya harus menjelaskan secara rinci kepada mereka karena memang
pemahaman yang kurang akan hal ini. Bantuan dan dukungan keluarga untuk meyakinkan
orang tua saya akhirnya membuahkan hasil yang baik. Alhamdulillah
H-3 keberangkatan kami, saya diam-diam menghubungi guru saya di Rawamangun
yang kebetulan bersedia mengajari saya sejak kelas 2 SMA secara les online yang tidak sengaja
diperkenalkan di Facebook. Awalnya saya tidak kenal dengan bapak ini namun begitu rapih
Allah membuat skenarionya untuk saya. Ibu saya bilang “kalau ke Jakarta mau menginap di
mana?” kemudian saya menceritakan semuanya tentang keluarga baru saya di Rawamangun
dan kebetulan beliau pun lulusan UI jadi tidak sulit untuk menuju ke UI untuk daftar ulang
ketika itu. Alhamdulillah beliau mau membantu kami selama kami di Ibukota karena memang
kami pun belum pernah ke sini sebelumnya dan tidak memiliki keluarga satu pun di sini.
Syukurlah daftar ulang saya berjalan dengan lancar dan semua rangkaian acaranya telah
saya ikuti. Ketika bersantai duduk bersama guru saya di rumahnya, beliau bertanya “berapa
nak uang kuliahnya?” saya menjawab “3 juta pak, dan alhamdulillah kebetulan orangtua saya
menyanggupinya”. Guru saya ini memberikan saya saran untuk mendaftar Bidikmisi (salah
satu beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu) karena mengingat biaya membeli alat
praktikum untuk kuliah di Kedokteran Gigi biasanya mahal. Saya justru baru tahu kalau
ternyata memang kuliah di jurusan saya ini semahal itu karena memang awalnya saya kurang
informasi. Mendengar saran dari beliau saya teringat ketika saya juga disarankan oleh guru
saya di sekolah untuk mendaftar Bidikmisi, namun ketika itu saya terlewat waktu
pendaftaranya karena kurangnya informasi, maklum sekolah kami berada di kota kecil jadi
untuk mencari informasi secara mandiri pun masih terasa kurang maksimal. Sempat terpikir
untuk tidak mau melanjutkan kuliah karena kepikiran omongan guru saya, bagaimana jika nanti
saya harus beli ini itu namun orangtua saya merasa sangat terbebani dalam biaya? Saya sangat
takut dan dipenuhi langkah keraguan.
Beberapa bulan kemudian ketika menjalani beberapa rangkaian ospek di kampus, saya
dihubungi oleh salah seorang kakak tingkat dan menyarankan saya untuk ikut mendaftar
Bidikmisi tahap kedua. Tentunya kabar ini menjadi kabar yang sangat baik untuk saya, dan
saya mengabarkan kepada orangtua saya untuk melengkapi beberapa berkas persyaratan.
Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa saya diterima pada beasiswa Bidikmisi
ini. Alhamdulillah ya Allah rezeki yang engkau berikan begitu berlimpah, setelah lulus
SNMPTN (jalur undangan) kemudian saya lulus juga di Bidikmisi.
Satu semester berlalu, saya menjalani hari-hari kuliah seperti mahasiswa pada
umumnya. Kesulitan-kesulitan dalam akademik pun mulai menghantui saya. Saya juga sadar
karena memang ketika di SMA saya kurang begitu menyukai pelajaran Biologi (yang justru
menjadi materi dasar saat saya kuliah dan akan selalu bertambah kesulitannya), bahkan saya
mengulang beberapa mata kuliah untuk mendapatkan predikat lulus di semester itu. Saya
sangat merasa sedih, ingin bercerita ke orangtua pun tak berani saya takut hal ini mnejadi beban
mereka.
Sangat kehilangan motivasi semenjak satu semester saya lalui, berat memang. Temanteman dekat pun belum punya karena saya anak rantau dari desa yang masih kurang bisa
menyeimbangi gaya hidup anak-anak ibukota. Disaat itu pula saya merasa sangat minder,
merasa menjadi orang yang paling bodoh, teman-teman saya dapat dengan mudah mencapai
predikat lulus bahkan dengan nilai terbaik, kenapa saya tidak bisa? dan saya pun merasa tidak
menyukuri nikmat tuhan.
Saya merasa sangat gagal. Baru satu semester saja sudah sangat gagal, bagaimana kedepannya
dengan tantangan yang lebih besar?
Saya ingin pulang kampung saja.
Belum bisa menerima keadaan ini, ketika sedang duduk di meja belajar saya tiba-tiba berfikir
“Aku sudah tidak bisa merubah nasib lagi, mungkin ini hanya hadiah sementara dari Allah, aku
menyerah dan ingin pulang. Aku tidak ingin jadi dokter gigi, cukup gantungkan saja cita-citaku
di dalam lemari bukan untuk digantungkan setinggi langit. Pikirku kala itu”
Faktor adaptasi terhadap lingkungan dan cara belajarlah yang ketika itu hampir merenggut citacita besarku. Perasaan selalu ingin pulang ke rumah membuat suasana hati pun tak mantap
untuk mencerna pelajaran. Di tambah lagi sehari-hariku terasa sepi tanpa teman bercanda dan
bermain seperti biasanya.
Hingga akhirnya aku mendapatkan titik terang dari kekecewaanku ini, melalui sebuah
mimpi ketika orangtua dan keluargaku tersenyum bahagia ketika datang ke klinik gigi yang ku
dirikan. Ya, aku yakin ini adalah petunjuk bahwa aku harus bangkit, dan harus tetap semangat.
Aku yakin, proses yang kulalui kemarin memang wajar sebagai bentuk adaptasi dan
pendewasaan diriku terhadap apa yang sedang ku hadapi. Hingga kini aku telah memasuki
tahun ketiga kuliah. Alhamdulillah lebih terasa ringan, proses belajar pun secara perlahan mulai
terasa mudah berkat doa orangtua dan bantuan teman-teman di sekitarku. Bahkan aku sudah
dua kali menjadi pembicara dalam memotivasi anak-anak SMA dalam melanjutkan
pendidikannya, ketika itu pertama kali di daerah Depok dan untuk kedua kalinya di daerah
kelahiranku, Berau dan masih banyak lagi pengalaman berharga yang aku dapatkan.
Seburuk apapun, tetaplah yakin bahwa nasi yang sedang digenggam belumlah tentu menjadi
bubur, ketika kita mau berusaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Beasiswa Inspirasi

KIP Kuliah: Dari Ibukota hingga Kaki Gunung Sumbing

Abdul Kholiq, seorang anak petani dari Kaki Gunung Sumbing yang berjuang menggapai impianya dari Sekolah Dasar, melanjutkan Kuliah dan dapat terbantu karena Beasiswa Bidikmisi hingga Magister

Read More
Ricky Melakukan Penelitian di Kandang Bebek
Beasiswa Inspirasi

Antara Kuliah atau Kondisi Keluargaku

Ricky Irawan seorang remaja yang berkuliah dengan segala kekurangan serta kesedihan dalam memperjuangkan nasib pendidikannya

Read More
Beasiswa Inspirasi

ANAK DESA BISA KULIAH FULL GRATIS!

Reni Nurliani seorang anak petani yang membuktikan bahwa anak petani tidak harus turun sawah untuk bisa bersekolah tinggi.

Read More