The Power of Dream: Yes, We Can!

Tulisan ini aku ketik pada waktu yang menurutku sangat kondusif untuk melakukan refleksi diri, yakni di saat Zuhur telah terlaksana, sementara azan Ashar masih agak lama. Waktu yang nikmat untuk menceritakan kisah inspiratif.

Hai namaku Duzhao Dongchuan. Tahun ini umur 11, dari Gansu, Tiongkok. Dari umur 3 setengah tahun aku belajar Inggris sampai sekarang. Aku di Tembok Besar menjadi pemandu wisata bagi wisatawan asing dan berkenalan dengan orang-orang terkenal umpamanya ketua dari Perancis, produser dari Holywood, ilmuwan Inggris.

Aku punya sebuah impian jadi pemimpin Tiongkok. Orang-orang bilang saya sangat naif. Tiap hari aku datang untuk mengatakan, aku adalah orang yang mampu mencapai impianku. Ya, aku bisa!

            Yes, we can! Ya, kita bisa adalah semboyan dari presiden Obama dari sebuah pidatonya dia katakan yes, we can, ya kita bisa. Aku ingin mengatakan, ya aku bisa, ya, betul aku bisa. Saat umur 5 tahun, aku sudah punya sebuah impian, harus jadi pemimpin bangsa di masa depan. Walaupun sekarang ini aku hanya umur 11 tahun. Tapi aku akan mengejar impian ini.

            Waktu umur 4 tahun kukatakan dalam waktu 2 tahun lancar berbahasa Inggris, tidak ada yang percaya termasuk ibuku yang tidak tahu huruf Romawi. Tapi saya katakan: yes, I can, ya, saya bisa, 2 tahun kemudian selain lancar bahasa Inggris, aku di Tembok Besar melayani wisatawan asing, menjadi penerjemah pemandu wisata sampai sekarang. Pada saat ini, aku sudah membantu 20 ribu turis.

            Suatu ketika aku berkunjung di Beijing. Pada waktu aku kembali ke hotel. Aku berjumpa dengan seorang asing. Saat ia bertanya apa impianku. Aku katakan aku ingin menjadi orang besar seperti pimpinan bangsa. Aku mengira dia akan seperti orang lainnya bilang itu hanyalah impian kosong. Tapi ternyata dia bilang aku percaya kamu bisa karena hanya orang yang punya impian orang yang tidak menyerah yang pantas dihormati orang lain. Sampai sekarang aku tidak lupa dia karena dialah orang pertama yang percaya pada impianku. Kemudian baru kuketahui, dia adalah produser fim Hollywood Tuan Chris Libby, seorang sutradara yang terkenal.

            Cinta dan impian adalah bahan baku terbaik untuk kehidupan. Seperti sebuah mata air membuat pohon kehidupan berkembang. Cinta orangtuaku adalah bahan baku terbaik perkembangan diriku. Tahun 2008 keluargaku berhutang 2 juta. Di musim dingin itu hidup kami bergantung pada 50 kilo sawi putih, 50 kilo kentang untuk bertahan hidup. Tapi walaupun begitu mereka menggunakan sisa uangnya untuk membeli bukuku.             Aku sangat berterima kasih pada orangtuaku, kalau bukan mereka yang tetap mendukung impianku, tidak ada aku yang seperti ini sekarang. Aku berterima kasih pada tuan Libby dan semua orang yang mempercayaiku, kalianlah yang membuatku tetap percaya pada impianku. Dalam usahaku untuk meraih impianku, saat terombang-ambing keraguan, selesaikan saja persoalan yang di depan mata. Tak seorangpun tahu, besok apa yang terjadi, tapi hanya dengan tindakan baru bisa diputuskan masa depan kalian. Yes, we can (Ya, kita bisa)!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beasiswa Inspirasi

KIP Kuliah: Dari Ibukota hingga Kaki Gunung Sumbing

Abdul Kholiq, seorang anak petani dari Kaki Gunung Sumbing yang berjuang menggapai impianya dari Sekolah Dasar, melanjutkan Kuliah dan dapat terbantu karena Beasiswa Bidikmisi hingga Magister

Read More
Beasiswa News

Volunteer KIP Kuliah 2022 menjadi Garda Depan Membimbing Calon Mahasiswa KIP Kuliah

Progam Volunteer yang digerakan oleh Bidikmisi Indonesia dalam rangka menyebar luaskan informasi terkait KIP Kuliah kepada para calon pendaftar di seluruh pelosok Indonesia.

Read More
Ricky Melakukan Penelitian di Kandang Bebek
Beasiswa Inspirasi

Antara Kuliah atau Kondisi Keluargaku

Ricky Irawan seorang remaja yang berkuliah dengan segala kekurangan serta kesedihan dalam memperjuangkan nasib pendidikannya

Read More